Feedback datang bukan hanya dari atasan, tapi juga rekan kerja, bawahan, hingga klien. Bahkan, self-assessment karyawan juga dilibatkan.
Metode ini mengurangi bias satu arah, tapi perlu pengelolaan yang rapi dan menjaga kerahasiaan pemberi feedback.

4. Tinjauan Manajerial Tradisional
Metode klasik ini tetap relevan: atasan langsung menilai kinerja bawahan berdasarkan pengamatan sehari-hari dan pencapaian target.
Sederhana, tapi pastikan data pendukung cukup kuat supaya hasilnya tidak subjektif.
5. Pengukuran Metrik Kuantitatif
Angka nggak bisa bohong. KPIs (Key Performance Indicators) bisa jadi alat ukur objektif untuk peran yang hasilnya terukur, seperti penjualan, jumlah produksi, atau tingkat kepuasan pelanggan.
Namun, ingat, angka hanya satu sisi cerita. Tetap perlu dikombinasikan dengan penilaian kualitatif.
6. Penilaian Kualitatif (Sikap dan Perilaku)
Selain angka, sikap kerja, kemampuan komunikasi, teamwork, hingga inisiatif juga penting. Evaluasi soft skills ini membantu membangun budaya kerja yang sehat.
Tantangannya? Objektivitas. Karena itu, gunakan deskripsi perilaku yang jelas.
7. Metode Peringkat
Karyawan dibandingkan satu sama lain, lalu diperingkat. Biasanya dipakai untuk menentukan bonus atau promosi.
Tapi hati-hati, metode ini bisa memicu persaingan tidak sehat kalau tidak diimbangi budaya kerja yang solid.





