Untuk itu memang diperlukan waktu agar bisa terasa di semua warga Kota Bogor, namun diluncurkannya Zona Air Minum Prima di Mulyaharja ini menjadi langkah awal menuju Bogor yang lebih sehat, hemat, dan berkualitas.
“Kita sudah menggunakan pipa food grade HDPE, bukan pipa lama yang kurang higienis. Ditambah ada sistem kontrol kualitas yang memantau kadar klor, pH, kejernihan, dan kekeruhan air. Semua itu menjamin air benar-benar layak diminum langsung dari keran,” ujar Dedie.
Ia menegaskan, layanan Zona Air Minum Prima memang baru menjangkau sekitar 6.000 rumah tangga di Mulyaharja dari total 190.000 pelanggan Tirta Pakuan. Namun, Pemkot Bogor berkomitmen untuk memperluas jangkauan secara bertahap dalam lima tahun mendatang.
“Insyaallah ini menjadi pelayanan terbaik untuk masyarakat Bogor dan lima tahun kedepan tentu akan kita perluas lagi jangkauannya,” ungkapnya.
Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira Gusniawan, menjelaskan bahwa seluruh instalasi pengolahan air (WTP) di Kota Bogor sebenarnya sudah mampu menghasilkan air layak minum. Namun, kendala utama ada pada jaringan pipa lama yang masih mengandung bahan kimia tertentu.
“Di semua WTP kita, airnya sudah siap minum. Tapi masalahnya, pipa distribusi lama masih menggunakan bahan yang tidak direkomendasikan untuk air siap minum. Karena itu, kami mulai rehabilitasi dengan pipa HDPE yang lebih aman,” kata Rino.





