INFOLADISHA — Ironi terjadi di pasar beras tanah air. Di satu sisi, gudang-gudang Perum Bulog penuh sesak dengan stok beras.
Tapi di sisi lain, harga beras di pasar terus meroket, bikin rakyat makin menjerit. Kok bisa?
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga pekan kedua Juni 2025, sudah 133 kabupaten/kota yang melaporkan kenaikan harga beras.
Padahal, seminggu sebelumnya, angkanya “hanya” 119 wilayah. Artinya, dalam sepekan saja ada tambahan 14 daerah yang harga berasnya ikut naik.
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menyebut kondisi ini sudah terjadi berbulan-bulan.
Harga beras medium dan premium konsisten bertengger di atas harga eceran tertinggi (HET).
Padahal, stok beras di gudang Bulog disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah.
“Beras ditumpuk terus di gudang. Apa gunanya stok besar kalau harga di pasar tetap mahal?” kritik Khudori, Selasa (17/6/2025).
Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan stok nasional sebenarnya aman.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menyebut stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang jadi barometer harga nasional stabil di atas 45.000 ton, bahkan sempat menyentuh hampir 50.000 ton awal Juni ini.
“Stok di level grosir cukup aman. Tapi setelah kita identifikasi masalahnya, ya tinggal pemerintah ambil langkah nyata,” ucap Arief.






