INFOLADISHA – Tumpukan gula menumpuk di gudang pabrik, mencapai 100 ribu ton, bikin petani tebu gelisah.
Mereka khawatir mimpi swasembada gula yang digadang-gadang Presiden Prabowo justru bisa kandas sebelum berbuah manis.
Sekjen Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI), M Nur Khabsyin, blak-blakan dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI.
Ia menyebut penjualan gula hasil panen rakyat seret karena digempur arus impor.
“Kami mohon ada solusi konkret agar industri gula tetap berjalan dan swasembada bisa tercapai. Kalau tidak, pabrik berhenti giling, pekerja kena PHK, dan roda ekonomi tebu lumpuh,” kata Nur dengan nada waswas.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Selain harga jual yang mandek, tumpukan stok membuat arus kas pabrik tersendat.
Padahal, dana segar sangat dibutuhkan untuk bayar gaji karyawan dan biaya operasional musim giling.
Kekecewaan petani makin memuncak setelah janji manis soal “stop impor gula” tak ditepati.
Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen, mengungkap bahwa pada Februari lalu Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, berjanji tidak akan membuka keran impor selama harga gula stabil.
Namun kenyataannya, pemerintah tetap memutuskan impor 200 ribu ton gula untuk cadangan pemerintah.
“Suasana pasar waktu itu bagus, harga lelang Rp14.700/kg, di atas HPP. Tapi ternyata tetap impor. Kami kecewa, karena janji itu sudah diucapkan berulang kali, bahkan di hadapan petani di Lumajang dan Malang,” tegas Soemitro.





