INFOLADISHA – Pemerintah menegaskan perkembangan kecerdasan artifisial atau AI tak bisa lagi dibiarkan tanpa kendali kuat.
Laju adopsi teknologi ini dinilai sudah melampaui kesiapan regulasi, membuka celah risiko mulai dari disinformasi hingga ancaman keamanan siber.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut transformasi digital kini bergerak dalam kecepatan eksponensial.
Pemanfaatan data dan AI bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang dihadapi masyarakat setiap hari.
“Bukan lagi sesuatu yang berada di masa depan, tetapi sesuatu yang kita hadapi setiap hari,” ujarnya dalam Forum Leadership Awareness Data dan AI Governance.
Perkembangan AI juga telah memasuki fase yang semakin kompleks.
Teknologi ini digunakan secara luas, baik oleh masyarakat umum maupun sektor industri, namun belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem tata kelola dan mitigasi risiko yang memadai.
Salah satu sorotan utama adalah maraknya penggunaan AI generatif dalam produksi konten digital.
Hasil yang dihasilkan kini semakin halus dan sulit dibedakan dari karya manusia.
Menurut Nezar, kondisi ini melahirkan fenomena yang dikenal sebagai realitas sintetis atau synthetic reality.
Dalam situasi tersebut, batas antara konten asli dan buatan mesin menjadi kabur, memicu potensi bias, misinformasi, hingga disinformasi.





