Merkurius terlihat makin rendah dan redup di barat, sedangkan Venus justru kian mencolok sekitar tujuh derajat di atas horizon.
Malam itu menghadirkan parade enam planet sekaligus, yakni Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus.
Tiga nama pertama relatif berdekatan di langit barat hingga selatan.
Jupiter menjadi yang paling terang di langit malam.
Adapun Uranus dan Neptunus tetap berada dalam konfigurasi yang sama, namun pengamat membutuhkan teleskop karena cahayanya sangat redup.
Parade seperti ini bukan hal langka dalam kalender astronomi, tetapi jarang terjadi dalam momen yang berdekatan dengan bulan suci.
3 Maret 2026, Gerhana Bulan Total
Puncak pertunjukan langit hadir pada 3 Maret saat Bulan Purnama memasuki fase gerhana total.
Dalam fase ini Bulan tidak menghilang, melainkan berubah warna menjadi jingga tembaga akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.
Fenomena ini populer disebut Blood Moon, meski secara visual warnanya cenderung tembaga dibanding merah pekat.
Gerhana bulan total dapat diamati dari sebagian besar wilayah Amerika Utara, Asia, dan Oseania.
Di Indonesia, fase total diperkirakan mulai terlihat sekitar pukul 18.30 WIB, menyesuaikan lokasi masing masing.
Peristiwa semacam ini selalu menarik perhatian publik, bukan hanya karena aspek visualnya, tetapi juga karena relatif aman disaksikan tanpa alat khusus.





