Lantaran menjadi tren, mereka juga ingin ikut menggunakannya.
Inilah yang melatarbelakangi munculnya kebaya Encim. Bahkan, kata “Encim” sendiri berasal dari bahasa orang peranakan yang artinya “Tante”.
Sebab, kala itu para tante atau orang dewasalah yang mulai terpikat menggunakan kebaya, tetapi dengan ciri khasnya sendiri.
Mereka menyukai warna-warna kain yang cerah dengan hiasan bordir yang ramai.
Oleh karena itu, dua hal tersebut menjadi begitu identik dengan kebaya Encim.
“Mereka sukanya warna-warna yang cerah dengan bordir. Jadi, pengaruh Tionghoa, dan dulu disebutnya pribumi ya. Nah, kekhasannya adalah ramai bordir-bordir warna-warni seperti ini,” jelas Sita.
7. Kebaya Noni dan keturunan Belanda
Para noni keturunan Belanda juga tertarik menggunakan kebaya.
Akan tetapi, mereka enggan menggunakan kain dan hiasan kebaya yang sama dengan orang pribumi.
Sebab, saat itu penerapan kasta antara para pribumi dan orang-orang keturunan Belanda masih sangat kuat.
Jadi, mereka memilih menggunakan kebaya putih dengan hiasan renda yang menempel di sekeliling kebaya.
Kebaya ini dikenal dengan kebaya Noni.
Menurut Sita, busana para noni Belanda identik dengan renda-renda yang cantik nan mewah.
Mereka gemar mengekspresikan kekayaannya melalui busana yang dikenakan setiap hari.
“Kalau dulu, rendanya itu mewah, bahan dasarnya pun mewah ya. Jadi, orang-orang Belanda kan pasti pengin berkebaya juga, dan kelasnya mereka pengin tinggilah ya,” kata dia.






