Artinya, bagian utara dan selatan patahan bergerak saling berlawanan.
Bukti nyatanya bisa dilihat dari Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa titik mencapai 460 meter.
Selain itu, terdapat perbedaan ketinggian tanah hingga 90 meter di bagian tertentu sesar.
Menurut Mudrik, sekitar 80 hingga 100 persen pergerakan Sesar Lembang didominasi geseran mendatar, sementara sisanya berupa pergerakan naik-turun permukaan tanah.
Semua proses ini berlangsung perlahan selama ratusan ribu tahun, namun justru itulah ciri sesar aktif penghasil gempa.
Penelitian terbaru menunjukkan kecepatan pergeseran Sesar Lembang berada di kisaran 1,9 hingga 3,4 milimeter per tahun.
Meski terlihat kecil, hasil kajian paleoseismologi menemukan bukti gempa besar di masa lalu.
Penggalian parit di kilometer 11,5 mengungkap adanya pergeseran tanah setinggi 40 sentimeter.
Temuan ini mengindikasikan pernah terjadi gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7.
Catatan jejak gempa purba menunjukkan peristiwa serupa terjadi pada abad ke-15, sekitar 60 tahun sebelum Masehi, bahkan hingga 19 ribu tahun lalu.
Berdasarkan pola tersebut, para ahli memperkirakan siklus ulang gempa besar Sesar Lembang berada di rentang 170 hingga 670 tahun.
Secara teoritis, gempa besar berikutnya diperkirakan bisa terjadi paling lambat sekitar tahun 2170.





