Untuk menerapkan sistem seperti di Jepang, harus terus dibangun kesadaran masyarakat bahwa sampah merupakan tanggung jawab pribadi atau masing-masing keluarga, sehingga tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Artinya, sampah yang dihasilkan oleh setiap individu, rumah tangga, atau tempat usaha harus melakukan pemilahan serta berupaya mengurangi produksi sampah. Sebab jika sampah terus diproduksi tanpa dilakukan pengurangan, pemilahan, dan pengolahan, maka akan terus menumpuk di tempat pembuangan akhir yang lambat laun mengalami keterbatasan kapasitas sehingga dikhawatirkan wilayah akan tertutup sampah.
“Ini akan berdampak besar terhadap lingkungan. Bayangkan kalau terus-menerus dibuang ke TPA, berapa banyak lahan yang harus kita siapkan karena produksi sampah terjadi setiap detik. Dan kalau kita mengandalkan pengelolaan sampah dengan sistem open dumping, tidak akan cukup. Dunia bisa tertutup sampah semua,” jelasnya.
Sehingga, lanjut Dedie Rachim, semua cara harus ditempuh meskipun tidak ada satu solusi yang paling ampuh. Namun, seluruh solusi yang ada harus diambil sebagai langkah penanganan persampahan.
“Itu juga yang terus kita lakukan, mulai dari pemilahan sampah, pencegahan atau pengurangan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta cara terbaru bagaimana mengolah sampah menjadi energi ataupun menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.





