Pihak TNI AU, melalui Mayor Dedy Septiawan dari Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AU (Kodiklatau) Lanud ATS, menyatakan bahwa penyebab kecelakaan masih dalam tahap penyelidikan internal.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait hasil investigasi.
Kabar duka atas kepergian Marsma TNI Fajar Adriyanto menyisakan luka mendalam, terutama bagi keluarga besar TNI AU.
Perwira kelahiran Bandung, 20 Juni 1970 ini wafat dalam usia 55 tahun, di tengah pengabdiannya dalam latihan penerbangan.
Jejak kariernya begitu panjang dan berwarna. Dari mulai Komandan Skadron 3 Lanud Iswahyudi, Kepala Dinas Penerangan TNI AU, hingga jabatan terakhir sebagai Kapoksahli Kodiklatau.
Ia dikenal sebagai sosok yang tegas, penuh integritas, dan dekat dengan bawahan.
Semasa hidup, Marsma Fajar tak hanya mengabdi lewat militer, tapi juga terus belajar, melanjutkan pendidikan di Universitas Pertahanan Indonesia, sebagai bentuk dedikasi terhadap perkembangan dunia aviasi nasional.
Kini, satu nama lagi tercatat dalam sejarah pengabdian tanpa batas di angkasa Indonesia.
Marsma Fajar Adriyanto telah pergi, namun semangat dan teladannya akan terus mengudara, menginspirasi generasi penerus TNI AU dan para pecinta dirgantara Tanah Air.





