“Sampah rumah tangga itu mereka pilah, lalu ditabung di bank sampah. Dan pihak pengelola bank sampah di wilayah membayar sampah tersebut dari warga. Semakin baik warga memilah sampah semakin baik pula harganya,” papar Darga.
Dijelaskannya lebih lanjut, sampah-sampah dari warga kemudian dipilah kembali oleh pihak pengelola bank sampah untuk dijadikan bahan baku industri (sampah anorganik).

Sedangkan sampah organik bisa dijadikan pupuk padat dan cair, kemudian dijadikan pakan utama magot (sejenis ulat kecil) yang bermanfaat untuk pakan ternak khususnya unggas.
“Nah kalau residu sampah anorganik seperti bekas kemasan saset dan sejenisnya bisa dibuat berbagai produk kerajinan seperti topi, tas, jas hujan dan lain lain,” bebernya.
Pihak pengelola bank sampah sendiri akan menjual sampah anorganik seperti botol dan minuman kemasan, kertas, kardus, plastik serta logam kepada industri untuk didaur ulang.

Untuk kertas, pihak industri menghargainya antara Rp.1000 – Rp.1500 perkilogramnya, plastik kisaran Rp.2000 – Rp.5000 perkilogram dan logam Rp.2000 – Rp.10.000 perkilogram.
“Selain sampah sayuran dan lain lain, kita juga menerima minyak jelantah dari masyarakat dan kita hargai Rp.4000 – Rp.5000. Selanjutnya minyak jelantah itu kita buat lilin,” tutup Darga.





