Pelemahan terjadi pada sektor bangunan, mesin, dan peralatan. Belanja pemerintah pun terkontraksi 1,38% YoY setelah sebelumnya melonjak karena aktivitas Pemilu 2024.

Di tengah tekanan, beberapa sektor masih menunjukkan kinerja positif. Sektor pertanian tumbuh paling tinggi, sebesar 10,52% YoY, berkat peningkatan produksi tanaman pangan seperti padi dan jagung.
Sektor manufaktur tetap stabil dengan pertumbuhan 4,55%, ditopang oleh ekspor logam dasar.
Sektor perdagangan ritel juga mencatat pertumbuhan 5,03%, didorong oleh momentum Ramadan. Aktivitas pariwisata yang terus membaik turut menopang sektor jasa.
Namun, sektor pertambangan mencatat kontraksi karena pemeliharaan tambang emas dan tembaga, sedangkan sektor konstruksi melambat akibat realokasi anggaran pemerintah.
Ke depan, dampak perang dagang diperkirakan masih akan menekan sektor-sektor yang bergantung pada ekspor ke pasar Amerika Serikat, seperti tekstil, garmen, alas kaki, elektronik, furnitur, dan produk karet.
Sebaliknya, sektor-sektor berbasis pasar domestik seperti jasa dan perdagangan diyakini akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan.
Di tengah bayang-bayang perlambatan, peluang pelonggaran kebijakan moneter mulai terbuka.
Jika ketegangan global mereda dan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed meningkat, Bank Indonesia dinilai memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) hingga 50 basis poin dalam sisa tahun ini.





