INFOLADISHA – Perekonomian Indonesia tengah menghadapi ujian berat. Selama lima bulan pertama pemerintahan Prabowo Subianto, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan pelemahan serius, memunculkan kekhawatiran bahwa negeri ini tengah meluncur ke jurang resesi.
Nilai tukar rupiah terus terdepresiasi meski dolar AS secara global cenderung melemah. Daya beli masyarakat merosot, sementara laju deindustrialisasi makin terasa, berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Semua ini menjadi sinyal bahwa ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat kekhawatiran tersebut. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 hanya mencapai 4,87%, angka terendah sejak kuartal III 2021.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut, perlambatan ini menunjukkan lemahnya dorongan struktural ekonomi setelah efek Pemilu 2024 yang sempat memicu lonjakan konsumsi, kini memudar.
Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengingatkan bahwa kondisi ini tak bisa dipandang sebelah mata.
“Ada peluang ke arah resesi. Ekonomi kita tak menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan,” ujarnya dalam seminar Innovation Summit Southeast Asia 2025 di Jakarta, Selasa (6/5).
Menurut Yose, pertumbuhan yang lemah justru terjadi saat seharusnya ekonomi mendapat dorongan dari momen Ramadan dan Lebaran.






