Gejala Resesi Teknis dan Industri yang Tertekan
Ekonom Celios lainnya, Bhima Yudhistira, mengungkapkan kekhawatiran terhadap tren pertumbuhan kuartalan (qtq) yang tercatat negatif sebesar -0,98%.

Ia menyebut ini sebagai pertumbuhan triwulanan terendah dalam lima tahun terakhir.
“Sektor industri pengolahan yang menjadi tulang punggung perekonomian sedang dalam tekanan. Jika tren ini berlanjut, risiko resesi teknikal tidak bisa dihindari,” jelas Bhima.
Pertumbuhan industri pengolahan nonmigas hanya 4,31%, turun dari 4,64% pada periode yang sama tahun lalu.
Indeks PMI manufaktur Indonesia yang turun ke level 46,7 pada April 2025—di bawah ambang ekspansi—menjadi indikator tambahan tekanan tersebut.
Lingkaran Setan: Industri Lesu, Daya Beli Melemah
Bhima mengingatkan bahwa pelemahan industri dan daya beli masyarakat kini menciptakan siklus saling memperlemah.
Industri yang tidak optimal akan mengurangi pembelian bahan baku dan melakukan efisiensi biaya, termasuk tenaga kerja.
Gelombang PHK pun tak terhindarkan, mendorong angka pengangguran yang kini naik 83.450 orang menjadi 7,28 juta jiwa (data BPS, Februari 2025).
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI), Adhi S Lukman, juga mengeluhkan performa bisnis selama Ramadan dan Idulfitri. Alih-alih melonjak, penjualan industri makanan dan minuman justru melemah.





