“Lebaran kali ini jauh dari ekspektasi. Daya beli kelas menengah bawah turun signifikan. PHK di berbagai sektor berdampak langsung,” kata Adhi.
Rekomendasi: Perlu Langkah Stimulus dan Reformasi Sosial
Para ekonom sepakat bahwa intervensi pemerintah dibutuhkan segera untuk memulihkan daya beli masyarakat.
Bhima menyarankan program bantuan sosial difokuskan ke kelompok menengah-rentan, termasuk pekerja informal yang kini kian dominan.

Ia juga mengusulkan agar skema BLT diubah menjadi voucher agar lebih tepat sasaran.
Sementara itu, dari sisi fiskal, belanja pemerintah yang diproyeksi meningkat pada kuartal III dan IV 2025 diharapkan dapat memberi dorongan tambahan.
Fithra Faisal dari Samuel Sekuritas menilai optimisme pemerintah mencapai target 5,2% perlu diimbangi dengan pemulihan konsumsi dan investasi secara agresif.
“Tanpa percepatan stimulus dan kejelasan iklim investasi, pertumbuhan hanya akan berkisar 4,8% sepanjang 2025,” ujarnya.
Pemerintah Tetap Optimistis, Meski Tantangan Membayangi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa meskipun melambat, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbilang kuat secara global.
Ia membandingkan capaian kuartal I-2025 Indonesia dengan negara-negara G20 dan ASEAN.
“Kita masih lebih baik dibanding Malaysia dan Singapura. Untuk ASEAN, hanya Vietnam yang berada di atas kita,” ucapnya.





