“Seluruh lapangan usaha tumbuh positif secara yoy, kecuali sektor pertambangan,” jelas Amalia.
Industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi tetap menjadi sektor andalan dengan kontribusi gabungan sebesar 63,96% terhadap PDB.

Fenomena ini menunjukkan ketidakseimbangan. Ketika sektor publik mulai menahan belanja dan dunia usaha belum cukup percaya diri untuk ekspansi, konsumsi domestik menjadi satu-satunya pilar yang menjaga ekonomi tetap hidup.
Namun, bergantung pada konsumsi saja bukan strategi jangka panjang yang berkelanjutan.
Di tengah bayang-bayang perlambatan global dan ketidakpastian arah kebijakan nasional usai Pemilu, angka 4,87% bukan sekadar statistik. Ia adalah refleksi dari perlunya perombakan mendalam dalam strategi pembangunan.
Tanpa dorongan investasi produktif, reformasi struktural, dan penguatan daya saing, Indonesia berisiko terjebak dalam stagnasi pertumbuhan rendah, tak cukup kuat untuk menciptakan lapangan kerja baru, menurunkan kemiskinan, apalagi menjawab tantangan ekonomi jangka panjang.
Kini pertanyaannya, apakah pemerintah siap menjawab sinyal peringatan ini dengan langkah konkret?





