Info Bisnis

Hemat Katanya, Sulit Nyatanya: Mengapa Orang Indonesia Tak Pernah Benar-Benar Bisa Irit

52
×

Hemat Katanya, Sulit Nyatanya: Mengapa Orang Indonesia Tak Pernah Benar-Benar Bisa Irit

Sebarkan artikel ini

INFOLADISHA – Nasihat hidup hemat dan rajin menabung sudah lama jadi lagu wajib sejak kecil.

Ulangannya konsisten, hasilnya tidak selalu.

Bukan karena orang Indonesia doyan boros semata, tetapi karena sejak awal, hidup hemat nyaris tak punya rumah dalam nilai sosial kita.

Sejarah mencatat, masyarakat Indonesia lebih akrab dengan dua mode hidup yang kontras yakni mewah atau miskin.

Tengah-tengahnya kosong. Hemat tidak tumbuh sebagai identitas bersama, melainkan sekadar anjuran moral yang mudah dipatahkan realitas.

Dalam pola sosial lama, relasi dibangun lewat keterikatan.

Upeti, hadiah, fasilitas, sampai posisi terhormat menjadi semacam “jaminan sosial”.

Kalau sudah memberi, rasa aman dan loyalitas ikut terbeli.

Pola ini tidak punah. Ia hanya ganti baju.

Masuk ke era modern, keterikatan berubah menjadi investasi sosial.

Memberi bukan cuma soal sopan santun, tapi strategi menjaga posisi dan jaringan.

Bagi yang berkecukupan, ini bukan soal besar.

Bagi yang miskin, ini tekanan tanpa tombol off.

Semiskinnya orang, tuntutan sosial tetap jalan.

Dampaknya terasa di keseharian.

Pengeluaran sering muncul bukan karena kebutuhan pribadi, melainkan demi menjaga wajah sosial.

Menjamu tamu, membawa hadiah, menggelar pesta, bahkan ketika harus berutang.

Kondisi rumah tangga dikorbankan agar tidak dianggap “tidak tahu diri”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *