Situasi ini pernah jadi bahan kritik tajam.
Pada Januari 1986, Presiden Soeharto menyerukan hidup hemat dan sederhana sebagai jalan keluar dari krisis ekonomi.
Seruan itu ditujukan untuk semua lapisan, termasuk kelompok berada.
“Pola-pola hidup sederhana itu bukan saja tertuju kepada pejabat pemerintah. Masyarakat luas, terutama kaum yang berada juga mempunyai kewajiban moral dan moril untuk meresapi dan menghayati pola hidup sederhana itu,” ujar Soeharto, dikutip dari Merdeka (10/02/1986).
Masalahnya, teladan tidak ikut hadir.
Pejabat dan orang kaya tetap bergelimang kemewahan, menggelar acara di hotel-hotel elite, sementara masyarakat diminta menahan diri. Seruan hemat pun terdengar timpang.
Faktanya, yang meredam krisis saat itu bukan kampanye irit massal, melainkan deregulasi kebijakan yang mendorong ekspor dan investasi.
Menjelang akhir 1980-an, ekonomi kembali stabil.
Hidup hemat tetap jadi slogan, bukan fondasi sosial.






