Meski kondisi di dua kota suci relatif stabil, kendala muncul pada penerbangan transit.
Beberapa jemaah harus menunda kepulangan, bahkan ada yang batal berangkat. Imbasnya tidak ringan.
Penundaan berarti biaya tambahan untuk penginapan dan pembelian tiket baru.
Di sisi lain, hotel-hotel di sekitar area ibadah mulai mengalami penurunan hunian karena calon jemaah membatalkan perjalanan.
“Hotel-hotel di sana pun sudah mulai kosong karena jemaahnya tidak jadi datang,” kata Elvira.
Bagi pelaku usaha travel umrah, situasi ini bukan sekadar gangguan teknis.
Ketidakpastian rute dan jadwal penerbangan langsung berdampak pada operasional dan kepercayaan jemaah.
Di tengah suasana global yang belum stabil, para penyelenggara dan jemaah kini sama-sama menunggu kepastian berikutnya.





