Suhu di gunung tinggi dapat sangat rendah, terutama di malam hari.
Selain itu, angin kencang dapat meningkatkan efek pendinginan (wind chill factor).
Hipotermia (penurunan suhu tubuh di bawah 35°C), dapat menyebabkan gangguan fungsi otak dan jantung, bahkan kematian jika tidak ditangani.
Juga dapat terjadi Frostbite (radang dingin), yaitu kerusakan jaringan akibat pembekuan, terutama pada jari tangan, jari kaki, telinga, dan hidung.
Juga akibat suhu dingin dapat terjadi Chilblains dan Trench Foot, suatu kerusakan jaringan akibat paparan dingin yang berkepanjangan tanpa ada pembekuan.
Dalam kasus almarhumah Lilie dan Elsa, hipotermia kemungkinan menjadi penyebab utama kematian mereka di Puncak Cartenz.
6. Dehidrasi dan Malnutrisi
Di ketinggian, tubuh kehilangan lebih banyak cairan melalui pernapasan dan keringat, sementara udara kering dapat mempercepat penguapan.
Dehidrasi dapat memperburuk gejala penyakit ketinggian dan mengurangi kinerja fisik secara keseluruhan.
Selain itu, pendakian yang melelahkan membutuhkan energi / kalori tinggi, sementara secaraa paradoks nafsu makan sering menurun di ketinggian.
7. Kelelahan dan Gangguan Tidur
Hipoksia dan kondisi lingkungan yang ekstrim dapat menyebabkan kelelahan kronis dan gangguan tidur, yang mengganggu kemampuan penilaian dan pengambilan keputusan, sehinggan meningkatkan risiko kecelakaan di medan yang berbahaya tersebut.






