Pada hiperhidrosis primer, penyebabnya adalah aktivitas berlebihan dari sistem saraf yang mengendalikan kelenjar keringat.
Stres juga dapat memicu munculnya keringat.
“Sementara itu, hiperhidrosis sekunder muncul sebagai gejala dari penyakit lain. Penting untuk mendiagnosis penyebabnya dengan tepat agar penanganan yang diberikan bisa efektif,” papar Stella.
Berkat kemajuan teknologi medis, ada beberapa pilihan pengobatan untuk mengelola hiperhidrosis, tergantung pada tingkat keparahan kondisi.
“Bisa pakai metode pengobatan antiperspirant, Iontophoresis, suntik botox, obat oral hingga pembedahan,” jelasnya.
Antiperspirant, adalah langkah pertama yang paling mudah. Produk dengan kandungan aluminium klorida dapat membantu menyumbat sementara kelenjar keringat.
Sementara Iontophoresis, prosedur ini menggunakan aliran listrik ringan melalui air untuk “mematikan” kelenjar keringat sementara.
Prosedur ini efektif untuk tangan dan kaki. “Kalau suntikan botox dapat memblokir sinyal saraf yang memicu keringat. Efeknya bisa bertahan hingga beberapa bulan dan sangat efektif untuk ketiak,” bebernya.
Selanjutnya, obat oral. Dokter dapat meresepkan obat antikolinergik untuk mengurangi aktivitas kelenjar keringat di seluruh tubuh.
“Terakhir, bisa lewat pembedahan. Pilihan ini menjadi solusi terakhir jika metode lain tidak berhasil. Prosedur bedah yang umum disebut Simpatektomi Torakoskopik Endoskopi (ETS). Dokter akan memotong atau menjepit saraf simpatik yang mengendalikan keringat di area yang bermasalah,” ungkap Stella.





