Ia menambahkan, hal tersebut bukanlah mustahil jika dilakukan melalui gagasan kreatif yang melahirkan inovasi. Berkaca dari negara-negara maju, para anak muda saling berkompetisi menciptakan hal baru untuk lima, sepuluh, bahkan hingga 20 atau 30 tahun ke depan.
“Mereka sudah bicara tentang robotics, mereka sudah bicara tentang microchip, mereka sudah bicara tentang bagaimana temuan-temuan baru, bukan hanya dari energi baru terbarukan, tetapi juga bagaimana menjadikan kehidupan manusia ke depan dimudahkan oleh ide-ide kreatif tersebut yang pada akhirnya dapat membantu masyarakat agar tidak bergantung pada satu negara saja,” ujarnya.
Melalui ajang Genovate 2026 ini, Dedie Rachim meminta agar perguruan tinggi terus menggalakkan temuan-temuan baru kepada para mahasiswa.
“Jadi, paling tidak dari Bogor nanti ada temuan-temuan melalui kegiatan Genovate yang inovatif dan ke depan bisa diproduksi massal serta digunakan di dalam negeri,” ucapnya.
Dalam kesempatan ini, Dedie Rachim juga mengajak generasi muda untuk peduli terhadap lingkungan. Sebab, kondisi saat ini bukan lagi climate change, melainkan climate disaster.
Direktur Universitas Terbuka Bogor, Enang Rusyana, menyampaikan bahwa sinergi antara mahasiswa, universitas, dan pemerintah merupakan kunci utama untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.





