• Keuangan: Pelanggan telat bayar, biaya bahan baku naik.
• Legal dan Regulasi: Perubahan perizinan, aturan pajak baru.
• Reputasi: Komentar negatif yang viral di media sosial.

• Persaingan dan Tren: Kompetitor baru muncul, tren konsumen bergeser.
Contohnya, seorang pengusaha kopi kekinian harus waspada kalau mesin espresso rusak pas jam sibuk. Kalau tidak siap, pelanggan bisa pindah ke kafe tetangga.
2. Ukur Seberapa Sering dan Seberapa Parah
Setelah tahu daftar risiko, lanjut ke tahap analisis:
• Seberapa besar kemungkinan risiko itu terjadi?
• Kalau terjadi, kerugiannya bakal segede apa?
Contohnya, bisnis online shop punya risiko website error. Mungkin jarang terjadi, tapi dampaknya fatal karena pelanggan tidak bisa checkout. Ini jelas prioritas tinggi.
3. Pilih Mana yang Paling Mendesak
Nggak semua risiko harus langsung diurus. Fokus ke yang paling berpotensi bikin rugi besar dan kemungkinannya tinggi.
Gunakan trik Pareto 80/20—urus 20% risiko yang paling kritis, karena biasanya itu yang menimbulkan 80% masalah.
Contohnya, usaha katering banyak risikonya, tapi yang paling prioritas tentu kebersihan makanan. Salah urus, bisa kena komplain kesehatan yang fatal.
4. Rancang Cara Mengantisipasi
Nah, sekarang waktunya bikin rencana cadangan. Strateginya bisa:
• Hindari (Avoid): Stop aktivitas yang risikonya terlalu besar.





