Sementara itu, karyawan merasa diremehkan, frustrasi, dan berpotensi resign.
3. Terlalu Fokus pada Detail Kecil
Alih-alih melihat gambaran besar, micromanager terjebak pada hal-hal remeh.
Akibatnya, visi jangka panjang terabaikan, peluang pertumbuhan bisnis terlewat, dan stres pun meningkat karena energi habis untuk hal sepele.
4. Koreksi Berlebihan karena Perfeksionisme
Micromanagement kerap muncul dari sifat perfeksionis. Setiap hasil kerja karyawan dikoreksi terus-menerus hingga sesuai keinginan owner.
Namun, hal ini justru membunuh kreativitas, menghambat inovasi, dan menimbulkan standar tak realistis.
Tidak sedikit karyawan yang akhirnya memilih mundur.
5. Minim Otonomi di Tempat Kerja
Budaya kerja yang sehat membutuhkan kepercayaan. Namun, micromanager cenderung mengontrol semua keputusan, membuat karyawan kehilangan kebebasan berkreasi.
Ini menciptakan budaya ketidakpercayaan, membuat owner kewalahan, dan bisnis berjalan lambat.
Mengapa Micromanagement Merugikan Bisnis?
Micromanagement bukan hanya melelahkan bagi pemilik bisnis, tapi juga merusak lingkungan kerja.
Kreativitas karyawan mati, potensi tim terhambat, turnover meningkat, hingga reputasi perusahaan tercoreng.
Dalam jangka panjang, bisnis kehilangan peluang inovasi dan sulit berkembang.
Sebagai owner, menghindari micromanagement bukan berarti melepas semua kontrol.






