Rumusnya lugas: jarak tempuh dibagi volume BBM pengisian kedua.
Konsumsi BBM = Jarak Tempuh ÷ Volume BBM.
Contohnya, odometer awal di 200 km dan saat isi ulang menunjukkan 500 km. Artinya mobil menempuh 300 km.
Jika BBM yang masuk 20 liter, maka konsumsi BBM mobil itu berada di angka 15 km per liter. Tidak dramatis, tapi jujur.
Hasil ini bisa dibandingkan dengan indikator di mobil. Selisih tipis masih wajar.
Kalau bedanya jauh, mungkin sudah waktunya berhenti menyalahkan lalu lintas semata.
Efisiensi BBM sendiri dipengaruhi banyak faktor. Gaya berkendara jadi penentu utama.
Akselerasi dan pengereman mendadak bikin bensin menguap sia-sia.
Berkendara halus, memanfaatkan momentum, justru membantu mesin bekerja di titik paling efisien.
Pemilihan BBM juga tak kalah penting. Mesin berkompresi tinggi butuh BBM dengan oktan sesuai.
Pakai oktan rendah bisa membuat pembakaran tidak ideal dan konsumsi justru membengkak.
Soal muatan, makin berat beban, makin keras kerja mesin. Membawa barang seperlunya bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga soal efisiensi.
Tekanan ban juga sering disepelekan. Terlalu rendah membuat mesin bekerja lebih berat, terlalu tinggi memangkas traksi dan kenyamanan.
Standar pabrikan tetap jadi jalan tengah yang paling aman dan masuk akal.
Terakhir, kondisi mesin. Mesin yang jarang diservis cenderung boros karena pembakaran tidak sempurna.






