Namun, di balik peluang tersebut, ada pula potensi tantangan baru. CIMB Securities mencatat bahwa kebijakan tarif AS ini bisa berdampak tidak langsung pada kawasan.

Lonjakan impor kendaraan dan komponen dari China berisiko menimbulkan inflasi impor, naiknya biaya operasional, serta tekanan terhadap mata uang lokal seperti ringgit Malaysia.
Ini bisa mempersempit margin keuntungan dan membuat produsen harus memilih antara menyerap kerugian atau menaikkan harga jual.
“Biaya impor yang lebih tinggi bisa memengaruhi harga kit completely knocked down (CKD), komponen, dan kendaraan yang sudah dirakit penuh. Di negara seperti Malaysia, di mana pembelian kendaraan sangat bergantung pada pembiayaan, sentimen pasar yang melemah bisa menekan angka penjualan,” jelas CIMB Securities.
Dengan kata lain, meski mobil China tampak makin berjaya di ASEAN, medan yang mereka hadapi bukan tanpa rintangan.
Ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi mata uang bisa menjadi batu sandungan dalam perjalanan mereka menaklukkan pasar Asia Tenggara.
Namun satu hal yang pasti: pasar otomotif di ASEAN sedang mengalami babak baru, dan China memegang kendali kemudinya.***




