Hashtag seperti #ZeroWaste, #SustainableLiving, dan #PlasticFree membanjiri Instagram dan TikTok, menampilkan estetika gaya hidup minimalis dan eco-friendly yang sering kali terlihat eksklusif dan mahal.
BACA JUGA : Tak Terima Istrinya Dilaporkan ke Pemkot, Suami Dokter Gigi Puskesmas Sempur Ngaku Teman Dedie Rachim
Lalu, muncul pertanyaan: apakah semua orang yang menerapkan gaya hidup ini benar-benar peduli pada lingkungan, atau sekadar mengikuti tren agar terlihat “kekinian”?
Ironisnya, beberapa aspek dari gaya hidup berkelanjutan justru mengarah pada konsumsi berlebihan.
Munculnya berbagai produk “ramah lingkungan” seperti sedotan stainless, botol minum kaca, dan kemasan bambu sering kali mendorong orang untuk membeli lebih banyak barang—yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip utama gaya hidup sustainable living: mengurangi konsumsi.
Sebagai contoh, banyak orang membuang sedotan plastik mereka dan menggantinya dengan sedotan stainless, padahal sedotan plastik yang sudah ada bisa digunakan berulang kali sebelum benar-benar dibuang.
Begitu pula dengan tren pakaian berbahan organik dan tas tote bag, yang sering kali dibeli secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampak produksinya terhadap lingkungan.
BACA JUGA : Ragam Budaya Bersatu di Bogor Street Festival Cap Go Meh 2025
Menurut studi dari Danish Environmental Protection Agency, sebuah tas tote bag katun harus digunakan setidaknya 7.100 kali agar memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan kantong plastik sekali pakai.






