INFOLADISHA – Penjualan mobil di Indonesia mengalami penurunan tajam sepanjang 2024 hingga awal 2025.
Fenomena ini bukan sekadar soal berkurangnya unit kendaraan yang berpindah tangan, melainkan memicu efek domino yang menggerogoti rantai pasok otomotif nasional hingga mencapai nilai ekonomi Rp10 triliun.
Sebuah angka yang menggambarkan betapa dalamnya dampak penurunan ini terhadap berbagai sektor, dari hulu hingga hilir.
Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil dari pabrikan ke diler (wholesales) sepanjang 2024 tercatat hanya 865.723 unit.
Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 13,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.005.802 unit. Artinya, lebih dari 140 ribu unit kendaraan tidak terjual dibandingkan tahun lalu.
Penurunan ini juga terasa pada penjualan bulanan di awal 2025. Pada Maret, angka wholesales hanya mencapai 70.892 unit, turun 1,99% dari Februari yang mencapai 72.336 unit.
Sementara penjualan ritel tercatat 76.582 unit, anjlok 6,8% dibandingkan Maret tahun lalu.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut dampak dari tren penurunan ini sangat luas.
“Hal ini berdampak langsung terhadap backward maupun forward linkage dalam industri otomotif. Nilai ekonominya ditaksir sekitar Rp10 triliun,” ujarnya pada Jumat (9/5/2025).






