Seyogyanya para seniman harus mampu beradaptasi dengan zaman, termasuk perkembanban teknologi di dalammnya.
“Selama dimulainya makhluk sosial berkumpul dengan yang lain itu sudah adaptasi sudah ada akulturasi tinggal bagimananya kita beradaptasi dengan semua itu,” ungkapnya.
Dirinya menilai kemajuan teknologi dan zaman tentu tidak berbahaya bagi seniman, selama para pelaku seni mampu beradaptasi dengan semua itu.
Baca Juga: Pakar Hukum TPPU Yenti Garnasih Tunjuk Sembilan Bintang Sebagai Kuasa Hukumnya, Ada Apa ???
“Jadi bukan sesuatu yang berbahaya, selama kita bisa beradaptasi dan memanfaatkan teknologi saya rasa semuanya akan sangat mungkin kita berdamai dengan zaman,” ujarnya.
Ketua panitia penyelenggara pameran, Bob Buchari mengatakan sedikitnya 35 seniman lukis, pematung, digital visual dan instalasi akan turut ambil bagian dalam perhelatan kesenirupaan di Kota Bogor ini.
“Kami mengundang para seniman dari Jabodetabek dan Bandung,” kata Bob di Sekretariat Dewan Kesenian dan Kebudayaan (DK3B) Kota Bogor.
Bob menambahkan, sekitar seratusan lebih karya lukis, patung, digital visulal dan instalasi akan mewarnai ruang pamer melalui tema ‘Hybrid Identity’. Di mana para perupa akan lebih mengejawantahkan fenomena kota sebagai pusat peradaban manusia.
“Kota menjadi tempat bertemunya sejarah, budaya, teknologi dan pembaruan zaman yang bertemu dan berkembang dalam kehidupan sosial melalui karya karya mereka,” ungkapnya.






