INFOLADISHA – Bayangkan, delapan dekade sejak proklamasi, ada sebuah desa saksi sejarah kemerdekaan yang tetap terisolasi tanpa tersentuh pembangunan.
Desa itu bernama Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.
Sejak 1945, Malasari seolah terjebak dalam lingkaran waktu.
Jalan bebatuan licin menjadi teman sehari-hari warga.
Perekonomian sulit berkembang, pendidikan terbatas, bahkan melahirkan di tengah jalan bukan hal asing bagi ibu-ibu di sana.
Padahal, Malasari menyimpan sejarah emas.
Pada 17 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi, bendera merah putih sudah berkibar di rumah almarhum Raden Ipik Gandamana di Malasari.
Dari desa inilah semangat kemerdekaan berkumandang di Kabupaten Bogor.
Namun ironis, selama 80 tahun lebih, desa bersejarah ini justru luput dari pembangunan.
Hingga akhirnya, di era Bupati Rudy Susmanto bersama Jaro Ade, perhatian itu datang.
“Ketika kami dilantik, Desa Malasari langsung menjadi prioritas. Jalan yang puluhan tahun belum tersentuh pembangunan, kini sedang diperbaiki. InsyaAllah, Malasari tidak akan lagi tertinggal,” kata Rudy.
Perubahan nyata mulai terasa. Sekitar 2 kilometer jalan telah dibetonisasi, membuka akses yang selama ini terhalang bebatuan.
Pemkab Bogor juga membagikan 442 sepeda untuk anak-anak Malasari.
Senyum mereka merekah, tak lagi harus berjalan kaki jauh hanya untuk bersekolah.






