NFOLADISHA – Siapa sangka, tidur, aktivitas sehari-hari paling sederhana kini menjelma jadi salah satu agenda favorit dalam dunia pariwisata dengan nama beken sleep tourism.
Setelah bertahun-tahun terjebak dalam rutinitas dan stres akibat pandemi, banyak orang mulai mengubah cara mereka memaknai liburan dengan sleep tourism.
Kini, tujuan utama bepergian bukan lagi sekadar melihat dunia, tapi memilih sleep tourism untuk menutup mata dan benar-benar tidur nyenyak.
Inilah yang disebut dengan sleep tourism, tren wisata yang diprediksi akan menjadi salah satu yang paling populer di 2025.
Liburan bukan lagi soal padatnya itinerary atau mencari spot instagramable, melainkan tentang mencari kembali kualitas tidur yang selama ini hilang.
Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa sekitar 36 persen orang dewasa di Amerika Serikat kekurangan tidur.
Di balik statistik itu, tersimpan fakta lain yang tak kalah penting, meningkatnya tingkat stres dan kegelisahan membuat tidur nyenyak menjadi barang langka.
Stres menyebabkan susah tidur, dan kurang tidur memperburuk stres. Siklus tak berujung ini mendorong banyak orang mencari solusi radikal, yaitu melarikan diri sejenak dan benar-benar fokus pada satu hal, istirahat.
Bagi mereka yang sudah kelelahan dengan hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, liburan yang menawarkan kesempatan untuk memulihkan pola tidur tentu terasa sangat menggoda.





