Pengamat sosial dan kebijakan publik dari Indonesia Digital Network, Suwandana, menilai kasus ini bukan hal baru di wilayah Bogor.
Ia menyebut pola serupa kerap muncul di sejumlah daerah.
“Bisa dilihat dari jejak digital, kasus pembuangan sampah di Bogor sering berulang dan berkaitan dengan persoalan lingkungan hidup,” kata Suwandana, Senin 6 April 2026.
Ia menyinggung sejumlah wilayah seperti Rumpin, Parungpanjang, hingga Cigudeg yang juga pernah diwarnai persoalan serupa.
Menurutnya, persoalan ini memiliki pola yang berulang dan perlu ditangani secara sistematis.
Penolakan warga, kata dia, berangkat dari kekhawatiran atas dampak jangka panjang.
Mulai dari polusi udara, kerusakan lingkungan, hingga risiko kesehatan.
“Perlu pengawasan dan pengelolaan yang lebih baik dari pemerintah,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan pegiat lingkungan Asep Ashari.
Ia menilai lamanya aktivitas pembuangan sampah di Waru Jaya menunjukkan lemahnya pengawasan dan lambannya respons terhadap keluhan warga.
Menurut Asep, laporan masyarakat sebenarnya sudah muncul sejak beberapa bulan lalu.
Namun respons yang tidak cepat membuat persoalan meluas.
“Kalau ditangani lebih awal, tidak akan berkembang seperti sekarang,” ujarnya.
Ia juga mengaku menerima berbagai keluhan warga terdampak.
Di antaranya banjir hingga kolam perikanan milik warga yang terdampak limpasan sampah.





