Tapi ada risikonya…
Meski terlihat praktis, penghapusan klasifikasi ini juga punya sisi negatif.
CORE Indonesia mengingatkan, segmentasi premium dan medium sebenarnya penting untuk perlindungan konsumen.
Dengan adanya beras medium, pemerintah bisa menjaga harga tetap terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah.
Jika semua dilebur, ada kekhawatiran harga beras umum akan naik.
Konsumen kelas atas mungkin tidak akan terganggu, mereka bisa dengan mudah mengganti pilihan makanan.
Tapi bagi masyarakat yang pengeluarannya lebih banyak untuk kebutuhan pokok, sedikit kenaikan harga saja bisa terasa berat.
Selain itu, kebijakan ini butuh transisi yang jelas. Jika diterapkan terburu-buru, bisa terjadi kekacauan di pasar.
Pedagang, ritel, bahkan petani mungkin butuh waktu menyesuaikan stok dan label produknya.
Siapa yang untung? Siapa yang rugi?
Ritel modern jelas diuntungkan. Mereka bisa menjual lebih banyak variasi beras. Konsumen yang ingin lebih banyak pilihan juga akan merasa diuntungkan.
Tapi bagi konsumen berpenghasilan rendah, kebijakan ini berpotensi menambah beban jika harga beras umum tidak dikendalikan dengan baik.
Petani kecil dan pedagang tradisional juga mungkin kebingungan jika aturan berubah tanpa masa penyesuaian.
Intinya, penghapusan klasifikasi beras premium dan medium bisa membawa manfaat kalau diikuti pengendalian harga yang ketat.






