Saat perjalanan, berhenti setiap 2 sampai 3 jam untuk istirahat bukan berarti kalah cepat, justru investasi keselamatan.
Jika kantuk mulai menyerang, mengandalkan kopi atau minuman energi saja bukan solusi jangka panjang.
Efeknya sementara dan bisa menipu rasa lelah.
Tidur singkat 15 sampai 20 menit di rest area jauh lebih efektif mengembalikan konsentrasi.
Tubuh butuh reset, bukan sekadar kafein.
Sejumlah mobil modern kini dibekali fitur seperti Driver Attention Warning atau Fatigue Detection System yang mampu membaca pola kemudi tidak stabil dan memberi peringatan.
Teknologi ini membantu, terutama saat pengemudi mulai tidak konsisten menjaga lajur.
Namun sistem secanggih apa pun tetap bergantung pada kondisi fisik manusia di balik setir.
Pada akhirnya, mudik bukan soal siapa paling cepat tiba.
Perjalanan aman jauh lebih penting daripada memangkas satu dua jam waktu tempuh.
Mengenali dan mencegah microsleep bisa jadi pembeda antara sampai dengan selamat atau justru menambah angka kecelakaan di musim yang seharusnya penuh kebahagiaan.
Kampung halaman tidak akan lari. Keselamatan jangan ikut dipertaruhkan.




