3. Waspadai ciri-ciri phising. Ajakannya sering bersifat mendesak atau membangkitkan emosi, seperti rasa takut atau iba, plus banyak typo dan tata bahasa kacau.
4. Gunakan hanya kamera bawaan ponsel atau aplikasi pemindai QR terpercaya. Lebih aman lagi kalau aplikasinya punya fitur keamanan tambahan.
5. Jangan asal masukkan data pribadi atau informasi keuangan setelah scan. Jika website yang terbuka meminta username, password, atau nomor kartu, pastikan alamat situsnya sahih.
6. Rajin ganti kata sandi dan hindari pakai satu kata sandi untuk banyak akun. Kebiasaan ini jadi pertahanan terakhir kalau sampai akun Anda bocor.
Sejak pandemi COVID-19, popularitas kode QR di Indonesia memang melejit, terutama setelah Bank Indonesia merilis standar QRIS yang membuat pembayaran digital lebih praktis.
Tak hanya UMKM, perusahaan besar juga ramai-ramai mengadopsi QRIS untuk mempercepat transaksi. Namun, dengan kemudahan ini, pengguna juga wajib waspada.
Kode QR bekerja dengan cara sederhana: kamera atau aplikasi pemindai membaca pola kotak-kotak hitam di atas latar putih, lalu menerjemahkannya ke data berupa tautan, nomor telepon, hingga perintah pembayaran.
Karena murah dan praktis, kode QR jadi primadona di dunia bisnis yang sekaligus celah baru bagi penipu.
Jadi, jangan terlena dengan kepraktisan teknologi. Bijak dan teliti adalah kunci agar kita tidak jadi korban quishing. Lindungi bisnis Anda, lindungi data Anda!






