INFOLADISHA — Kerusakan tata ruang di Bogor kini tak lagi jadi masalah lokal.
Dampaknya menjalar ke wilayah hilir, termasuk Jakarta, seiring meningkatnya banjir dan longsor dalam beberapa tahun terakhir.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut perubahan fungsi lahan di kawasan resapan air dan perbukitan sebagai pemicu utama.
Ia menilai alih fungsi lahan yang masif membuat daya dukung lingkungan terus menurun.
“Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Banyak banjir dan longsor itu disebabkan perubahan tata ruang,” ujar Dedi, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: Hujan Deras Picu 14 Bencana di Kabupaten Bogor, Longsor hingga Banjir Terjadi Serentak
Ia menjelaskan, banyak kawasan hijau yang seharusnya menyerap air kini berubah menjadi permukiman.
Perubahan ini tidak terjadi dalam skala kecil, melainkan meluas sejak kebijakan tata ruang sebelumnya.
Dampaknya tidak berhenti di Bogor.
Air yang tidak terserap dengan baik mengalir ke wilayah bawah dan memperbesar risiko banjir di daerah seperti Bekasi, Karawang, hingga Jakarta.
“Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta,” kata Dedi.
Baca Juga: Kirab Mahkota Binokasih Dimulai dari Sumedang, Napak Tilas Padjadjaran Keliling Jabar
Salah satu wilayah yang disorot adalah Sukamakmur.





