INFOLADISHA – Masalah judi online (judol) seakan sudah menjadi bencana nasional.
Tak sedikit orang yang terjerat masalah judi online hingga melakukannya berulang kali, seakan tidak kapok meski sudah kalah dan mengalami kerugian finansial yang tidak sedikit.
Sebenarnya apa yang membuat pelaku judi onlinesulit untuk kapok?
Dokter spesialis kejiwaan yang menangani pasien judi online di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Kristiana Siste Kurniasanti, SpKJ menuturkan kecanduan judi online itu seperti kecanduan narkoba.
Pasien seringkali merasakan kecemasan dan gelisah ketika bermain judi online.
Oleh karena itu, pasien tahap lanjut biasanya akan memerlukan perawatan lanjutan termasuk terapi psikoterapi.
Menurut dr Siste, perlu ada transmagnetic stimulation (terapi non-invasif untuk merangsang sel-sel otak) yang diberikan untuk mengaktifkan stop sistem di otak.
“Pada saat orang itu sudah kecanduan judi online, ada area bagian otak depan namanya prefrontal cortex, maka pada saat itu kehilangan kendali perilaku terjadi. Artinya pada saat aku harus berhenti, ini karena aku sudah kalah Rp 5 miliar, dia mau berhenti tapi otaknya tidak bisa berhenti untuk main judi,” ujar dr Siste dalam sebuah kesempatan.
Kecanduan judi online sangat berpengaruh pada kondisi psikis. Selain itu, orang yang kecanduan judol biasanya juga lebih rentan mengalami kecemasan hingga heart rate atau denyut jantung yang lebih cepat.
Pada kasus yang parah, pasien kecanduan judi online juga bisa mengalami depresi berat hingga muncul keinginan untuk bunuh diri.





