Alhasil, bank harus lebih selektif menyalurkan kredit.
“Kami atur komposisi kredit supaya NPL secara keseluruhan tetap terkendali,” kata Lani.

Senada, OK Bank melihat persoalan NPL rumah tangga bukan hanya soal daya beli yang tergerus inflasi.
Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah, menyebut ada faktor lain yaitu pendapatan rumah tangga stagnan, cicilan menumpuk, dan risiko bunga variabel. Makanya, bank kini makin sering meninjau ulang eksposur kredit.
“Kalau ada segmen berisiko tinggi, misalnya KTA atau kartu kredit, kami bisa tahan ekspansinya,” jelas Efdinal.
Langkah lain? Bank mulai mengalihkan fokus ke sektor yang lebih tahan guncangan, sekaligus menyiapkan cadangan kerugian yang lebih realistis.
Bank Mega Syariah juga menyoroti penurunan daya beli ini. Indeks Penjualan Riil (IPR) BI sudah turun dari 9,3% jadi 5,5% di kuartal I/2025.
Pembiayaan konsumer pun ikut melambat. Raksa Jatnika Budi dari Bank Mega Syariah bilang inovasi digital jadi kunci untuk dorong pembiayaan di tengah kondisi sulit.
“Digitalisasi penting untuk perluas jangkauan layanan dan bikin nasabah nyaman,” ungkapnya.
Sementara itu, pengamat perbankan Moch. Amin Nurdin menilai menurunnya pelunasan kredit, khususnya KPR, adalah hal wajar saat daya beli menurun.
Amin menyarankan bank menyesuaikan kebijakan bunga dan memberi opsi restrukturisasi ke nasabah.





