Pada kuartal I/2025, pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 4,87% (YoY), melambat dari 5,02% pada kuartal sebelumnya.

“Pemangkasan suku bunga ini adalah langkah antisipatif untuk menjaga momentum pertumbuhan, dengan tetap mengandalkan instrumen lain seperti SRBI dan intervensi nilai tukar untuk menjaga stabilitas eksternal,” tambah Josua.
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai keputusan BI mencerminkan kondisi riil ekonomi domestik yang masih lemah.
Dengan risiko global yang tetap tinggi, ia melihat BI mencoba menciptakan ruang tumbuh bagi sektor riil.
Hal senada disampaikan Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalitas Situmorang.
Ia menilai kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah cukup beralasan, mengingat penguatan rupiah selama sebulan terakhir ditopang oleh derasnya aliran modal asing.
Hingga 20 Mei 2025, rupiah tercatat menguat 1,13% dibandingkan akhir April dan ditutup menguat di level Rp16.387 per dolar AS usai pengumuman BI Rate terbaru.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global yang belum sepenuhnya mereda, meskipun tensi AS-Tiongkok mulai menurun.
“Kami terus lakukan intervensi, baik di pasar spot, DNDF dalam negeri, maupun NDF di luar negeri seperti di Hong Kong, Eropa, dan New York,” jelas Perry dalam konferensi pers RDG.





