Di sisi lain, platform seperti TikTok dan Instagram kini menjadi ‘panggung utama’ bagi para influencer.

Konten seperti “Get Ready With Me” dan review produk sudah menjadi strategi jitu untuk menarik perhatian konsumen.
Namun, di balik geliat pemasaran ini, ada fenomena lain yang perlu dicermati: budaya konsumtif.
Dorongan untuk mengikuti tren yang dibentuk influencer sering kali membuat konsumen membeli produk bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan demi eksistensi sosial.
Bahkan, tekanan ini bisa berdampak pada kesehatan mental, khususnya di kalangan remaja dan wanita muda yang merasa harus memenuhi standar kecantikan yang tidak selalu realistis.
Penelitian dari IPB University pun menguatkan temuan ini. Gaya hidup aktif di media sosial dan ketertarikan pada konten kecantikan ternyata berkontribusi besar dalam keputusan pembelian skincare, terutama di kalangan Generasi Z.
Influencer yang tampil jujur, punya karakter unik, dan berpenampilan menarik, dinilai lebih mampu membentuk selera konsumen muda.
Meski begitu, tak semua konsumen langsung tergoda. Laporan dari Indotelko menyebutkan, meskipun 59% responden merasa terpengaruh oleh KOL dan influencer, hanya 14% yang benar-benar memiliki kecenderungan kuat untuk membeli produk yang di-endorse.
Sebagian besar masih mengutamakan kesesuaian produk dengan kebutuhan pribadi.





