“Awalnya masih produksi buat toko-toko di atas, tapi lama-lama enggak kuat. Sekarang ya paling servis tas aja. Pekerja tinggal enam orang, dua satpam dan empat tukang servis,” ujarnya.

Pada masa keemasannya sekitar tahun 2015, Jalan Tajur dipenuhi sekitar 40 toko tas dari skala rumahan hingga besar.
Tajur bahkan sempat disebut Tanah Abang-nya tas Bogor. Tapi kini, hanya sekitar 10 toko yang masih bertahan hidup, meski sebagian nyaris tanpa pembeli.
Kawasan ini juga dulu dikenal sebagai biang macet. Angkot ngetem di depan toko, bus wisata parkir sembarangan, dan wisatawan menumpuk di trotoar.
Tapi hari ini, Tajur justru sunyi senyap. Tak ada lagi klakson, tak ada keramaian, hanya suara kendaraan yang lewat sesekali.
Satu-satunya yang masih bertahan dengan gagah adalah SKI (Sumber Karya Indah) Tajur, pabrik dan pusat belanja yang memadukan wisata keluarga dengan penjualan tas.
SKI masih menjadi destinasi favorit bagi pengunjung dari luar kota, meski pengunjungnya tak seramai dulu.
Sementara itu, banyak pengrajin kecil di sekitar Katulampa dan Bantar Kemang kini memilih beralih profesi.
Ada yang jadi penjahit pakaian, ada yang membuka usaha makanan rumahan.
Bagi warga Tajur, industri tas bukan sekadar mata pencaharian, tapi juga bagian dari identitas kota.
Mereka berharap, suatu saat geliat produksi tas Tajur bisa bangkit lagi.






