Info Daerah

Isra Mi’raj: Dari Pawai Obor hingga Replika Burak, Tradisi Unik Umat Muslim yang Penuh Makna

×

Isra Mi’raj: Dari Pawai Obor hingga Replika Burak, Tradisi Unik Umat Muslim yang Penuh Makna

Sebarkan artikel ini

Acara diawali dengan tahlil malam dan dilanjutkan pembacaan hingga tuntas oleh tokoh masyarakat, menjaga warisan literasi Islam lokal yang sarat nilai sejarah.

Sementara itu, masyarakat Bangka Belitung punya tradisi Nganggung. Warga membawa hidangan dari rumah ke masjid atau balai desa dalam konsep “Sepintu Sedulang”.

Setelah doa, dzikir, dan ceramah, makanan disantap bersama sebagai wujud syukur dan gotong royong.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Isra Mi’raj dirayakan lewat tradisi Ngusiran atau cukur rambut bayi.

Bayi berusia di bawah enam bulan dicukur rambutnya, dengan seluruh tokoh agama dan masyarakat yang hadir ikut mencukur atau menyentuh kepala bayi sebagai simbol doa dan kebersamaan.

Nuansa budaya juga terasa kuat di Yogyakarta.

Kraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Yasa Peksi Burak, dengan mengarak replika Burak dari kulit jeruk bali menuju Masjid Gede Kauman.

Replika tersebut diletakkan di gunungan buah yang kemudian dibagikan kepada masyarakat usai pengajian sebagai simbol rasa syukur dan kebahagiaan.

Di berbagai daerah Jawa Tengah, Nyadran dan Ambengan turut mewarnai peringatan.

Nyadran diawali pembersihan makam leluhur, doa bersama, dan pengajian, sementara Ambengan ditutup dengan makan bersama hidangan khas yang dipimpin doa sesepuh.

Tradisi Ambengan juga kuat di Jawa Timur, khususnya di wilayah pedesaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *