Nikita menambahkan, risiko kredit macet juga bergantung pada struktur kredit di masing-masing bank dan perusahaan fintech, terutama yang gencar menawarkan skema buy now pay later (BNPL).

“Kami lihat risiko kualitas aset lebih tinggi ada di bank-bank daerah kecil dan fintech,” ujarnya.
Tapi bank besar juga tidak aman-aman banget. Bank dengan porsi kredit UMKM besar, seperti BRI, punya risiko lebih tinggi dibanding Mandiri yang porsi kredit UMKM-nya lebih kecil.
“NPL Mandiri sekitar 4%-5%, sedangkan BRI mendekati 8% karena banyak pinjaman mikro yang sudah berulang kali direstrukturisasi sejak pandemi tapi tetap sulit diselesaikan,” tambahnya.
Padahal, data Bank Indonesia (BI) sebenarnya menunjukkan bahwa secara keseluruhan NPL perbankan sempat turun.
Pada Desember 2024, NPL perbankan tercatat 2,08%, membaik dari 2,19% pada Desember 2023. Tapi, UMKM justru mencatat kenaikan NPL.
Sektor pertanian misalnya, yang banyak digerakkan UMKM, NPL-nya naik tipis dari 2% jadi 2,04% dengan total kredit macet Rp11,07 triliun dari kredit Rp543,57 triliun.
Sektor perdagangan stagnan di 3,24% dengan kredit macet Rp42,95 triliun dari total kredit Rp1.324,21 triliun.
Secara keseluruhan, NPL UMKM naik dari 3,71% di 2023 jadi 3,76% di 2024. BI bilang, ini terjadi karena penyesuaian kualitas kredit setelah berakhirnya relaksasi restrukturisasi kredit akibat Covid-19.





