“Khususnya masyarakat kelas menengah bawah, mereka tetap berkunjung, tapi yang dibeli barang dengan harga satuan lebih terjangkau,” ungkapnya.

Artinya, bukan frekuensi kunjungan yang turun, melainkan pola belanja yang bergeser.
Konsumen lebih cermat memilih produk sesuai bujet, meski tetap mendambakan suasana belanja yang nyaman dan seru.
Menurut Alphonzus, fenomena ini menunjukkan bahwa fungsi mal sudah bertransformasi.
Mal bukan lagi sekadar tempat belanja, melainkan ruang untuk bersosialisasi, berkumpul, atau sekadar melepas penat.
Pengalaman Belanja Jadi Kunci
Untuk itu, lanjut Alphonzus, pusat perbelanjaan yang ingin bertahan harus mampu menghadirkan pengalaman menyeluruh bagi pengunjung.
Mulai dari variasi tenant yang menarik, ruang interaksi sosial yang nyaman, hingga konsep bangunan yang mendukung aktivitas berkumpul.
“Pusat perbelanjaan harus punya fasilitas yang memungkinkan pengunjung berinteraksi sosial. Kalau hanya mengandalkan transaksi belanja, sulit bersaing di era sekarang,” tutup Alphonzus.
Kondisi ini menjadi sinyal bagi pelaku usaha ritel: pengalaman dan suasana belanja sama pentingnya dengan produk yang ditawarkan.
Dan bagi masyarakat, mal masih menjadi tempat favorit untuk melepas penat, meski kantong sedang menipis.





