3. Kelompokkan ke divisi-divisi
Misalnya ada divisi Produksi, Pemasaran, Keuangan, HRD, dan Umum.
4. Tentukan jabatan dan tanggung jawab
Siapa jadi direktur? Siapa pegang keuangan? Semua harus jelas supaya nggak tumpang tindih.

5. Bikin bagan organisasi
Visualisasikan supaya mudah dipahami semua orang.
6. Isi posisi dengan orang yang tepat
Jangan asal tunjuk, pilih yang memang kompeten di bidangnya.
7. Buat pedoman kerja
Supaya semua divisi jalan sesuai aturan dan nggak bingung.
Pilih Pola Struktur yang Cocok
Nggak semua UMKM harus punya struktur yang rumit. Sesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa pilihan:
• Fungsional: Dikelompokkan sesuai fungsi, misal pemasaran, produksi, keuangan.
• Divisi: Cocok kalau punya banyak produk atau proyek.
• Berbasis proses: Fokus pada alur kerja, misal bisnis kue dibagi adonan – panggang – kemas.
• Matriks: Cocok untuk bisnis kreatif, karyawan bisa punya dua atasan.
• Sirkular: Lebih fleksibel, komunikasi terbuka, nggak terlalu hierarki.
• Flat: Struktur mendatar, jarak pemilik dan karyawan dekat, pas untuk UMKM kecil.
Contoh gampang? Bisnis kedai kopi. Pemilik – barista – waiters. Simple, tapi tetap jelas.
Jadi, kalau selama ini bisnis masih serba sendirian, sekarang saatnya berbagi peran.
Dengan struktur organisasi UMKM yang jelas, bisnis bisa lebih rapi, efisien, dan mudah berkembang.





