INFOLADISHA – Mengganti knalpot standar dengan knalpot racing kerap dianggap jalan pintas membuat motor terasa lebih bertenaga.
Suaranya lebih keras, tampilannya lebih sporty, dan sensasinya beda.
Bagi sebagian pengendara, itu sudah cukup untuk menekan tombol “checkout”.
Namun di balik kesan garang itu, knalpot racing membawa serangkaian dampak yang tidak selalu ramah untuk pemakaian harian.
Perubahan pada sistem pembuangan gas buang ikut mengubah cara kerja mesin secara keseluruhan, dari performa hingga soal kenyamanan dan daya tahan.
Pengamatan di lapangan menunjukkan setidaknya ada empat hal utama yang patut dipertimbangkan sebelum meninggalkan knalpot bawaan pabrikan.
Pertama, soal karakter mesin dan respons performa. Knalpot racing dirancang dengan jalur gas buang yang lebih terbuka.
Gas sisa pembakaran keluar lebih cepat, membuat mesin terasa ringan saat ditarik.
Efeknya paling terasa di putaran menengah ke atas, terutama saat akselerasi.
Masalahnya, peningkatan ini tidak selalu merata. Tanpa penyetelan ulang, torsi di putaran bawah bisa turun.
Motor jadi kurang enak dipakai stop and go di kemacetan.
Bertenaga di jalan lengang, tapi rewel saat dipakai ngantor.
Kedua, konsumsi bahan bakar. Aliran gas buang yang berubah ikut memengaruhi rasio udara dan bensin.
Jika setelan mesin tetap standar, pembakaran bisa tidak optimal.






