INFOLADISHA – Musim hujan datang dan genangan air ikut hadir.
Bagi pengendara motor, pilihannya sering sederhana.
Putar balik atau lanjut terobos banjir.
Banyak yang memilih opsi kedua, kadang karena terburu waktu, kadang karena merasa airnya masih aman dilalui.
Masalahnya, banjir bukan cuma soal sepatu basah.
Di balik air keruh itu, ada ancaman serius bagi jantung motor, yakni mesin.
Salah satu risiko terbesar saat motor melintasi genangan adalah air masuk ke ruang mesin.
Air bisa terhisap lewat saluran udara lalu bercampur dengan oli.
Begitu tercampur, urusannya tidak lagi sepele.
Tak sedikit pemilik motor langsung mengganti oli setelah menerjang banjir.
Langkah ini memang terdengar aman.
Namun apakah selalu wajib dilakukan?
Jawabannya bergantung pada seberapa tinggi air yang dilalui motor.
Jika genangan hanya tipis dan tidak melewati setengah roda, risiko air masuk ke mesin relatif kecil.
Cerita berubah ketika ketinggian air mencapai lebih dari 30 sentimeter.
Pada kondisi ini, peluang air tersedot ke dalam mesin meningkat drastis.
Tanda paling mudah dilihat ada pada kondisi oli. Oli normal berwarna bening kecokelatan dan licin.
Jika warnanya berubah keruh, menyerupai susu, atau terasa kasar dan lengket, itu sinyal kuat oli telah tercemar air.
Dampaknya tidak main-main.
Oli yang tercampur air kehilangan fungsi pelumasan.





