“Itu hanya sekitar satu meter persegi. Finishing di bagian atas memang kurang rapi, jadi kami langsung lapisi dengan membran bakar untuk menghindari kebocoran lebih lanjut,” jelasnya.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga agar bangunan tidak dibiarkan rusak. Ia menegaskan pentingnya perawatan rutin, terlebih sebelum museum tersebut resmi dibuka untuk publik.
Dalam proses revitalisasi ini, dukungan juga datang dari berbagai komunitas budaya di Kota Bogor. Salah satu usulan yang mencuat adalah menjadikan Museum Pajajaran sebagai bangunan cagar budaya.
Firdaus pun menyambut positif wacana tersebut, namun tetap menekankan pentingnya mengikuti mekanisme yang berlaku.
“Kami punya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), biarkan mereka yang melakukan kajian. Kalau memang memenuhi syarat dan layak ditetapkan, tentu akan kita dukung penuh. Tapi kita tetap harus taat regulasi,” tegasnya.
Lebih dari sekadar gedung pameran, Pemkot Bogor ingin menjadikan Museum Pajajaran sebagai ruang hidup kebudayaan.
Rencana ke depan termasuk menggelar program edukasi sejarah, pameran interaktif, hingga kegiatan seni budaya yang bisa melibatkan masyarakat luas.
Firdaus pun berharap, museum ini bisa menjadi simbol kebangkitan kembali semangat pelestarian sejarah lokal di tengah kota yang terus berkembang.
“Kita ingin museum ini hidup, bukan hanya jadi bangunan cantik tapi mati fungsi. Lewat konsep bertahap, kolaborasi, dan partisipasi publik, saya yakin Museum Pajajaran bisa jadi ikon baru sejarah di Kota Bogor,” tutupnya.***






