Menurut Rusli, dilema penutupan tambang harus disikapi hati-hati.
Di satu sisi, kecelakaan akibat lalu lintas truk tambang memang telah merenggut lebih dari seratus nyawa.
Namun di sisi lain, ribuan keluarga kini kehilangan sumber penghasilan.
“Keputusan ini baik, tapi jika tanpa solusi bisa membuat masyarakat semakin terpuruk,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah provinsi meninjau kembali kebijakan tersebut, termasuk mempercepat pembangunan jalan khusus tambang agar aktivitas tidak lagi berbenturan dengan kepentingan warga.
“Kami minta ada solusi, bukan hanya penutupan. Kalau tidak, desa yang tadinya maju bisa merosot menjadi desa berkembang lagi,” pungkas Rusli.






