Menurut Syahril, pola tersebut menjadi cara untuk menjaga lahan tetap produktif selama tiga hingga empat tahun sebelum tanaman durian menghasilkan buah.
Pengembangan komoditas tambahan itu turut didukung kerja sama dengan sejumlah mitra yang telah mempunyai pasar masing-masing.
Kolaborasi tersebut diharapkan membantu menopang kegiatan pertanian selama kebun durian masih dalam tahap pertumbuhan.
Dibidik menjadi destinasi wisata dekat Jakarta
Letak Parung yang relatif dekat dengan Ibu Kota menjadi salah satu potensi yang ingin dimanfaatkan pengelola.
Aksesibilitas tersebut dinilai membuka peluang bagi kebun untuk menarik pengunjung, sekaligus menjadi tempat belajar bagi masyarakat yang tertarik pada sektor perkebunan.
Dalam lima tahun mendatang, Syahril berharap kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata sekaligus pusat pembelajaran budidaya durian.
Lebih dari sekadar menghasilkan buah, ia ingin kebun tersebut memiliki manfaat jangka panjang melalui transfer pengetahuan kepada generasi berikutnya.
“Kami berharap kebun ini menjadi kebun untuk generasi selanjutnya, tempat belajar generasi selanjutnya,” tuturnya.
Jika rencana pengembangan berjalan sesuai harapan, kebun di Desa Cogrek ini akan menawarkan dua fungsi sekaligus yakni tempat mengenal beragam durian dan ruang belajar bagi mereka yang ingin menekuni budidayanya.





